Insiden Penyalahgunaan Data Pribadi di Dunia Maya

September 30, 2018

Insiden penyalahgunaan data pribadi terbesar tahun ini yang sempat menjadi sorotan dunia internasional adalah kasus kebocoran data pribadi sebagian pengguna Facebook ke perusahaan pihak ketiga bernama Cambridge Analytica.

Bocoran informasi dari sebagian pengguna facebook tersebut kemudian digunakan sebagai alat untuk keperluan politik, dengan membentuk opini tertentu di jejaring sosial.

Jumlah persis dari pengguna Facebook yang datanya bocor dalam kasus tersebut belum diketahui pasti, hingga kemudian pada 4 April 2018, Facebook merilis keterangan bahwa angkanya kisaran 80 juta pengguna,

Grafik negara dan jumlah pengguna Facebook yang mengalami kebocoran data ke Cambrige Analytica (Facebook)

 

Indonesia berada di urutan ketiga, setelah Amerika Serikat dengan kebocoran data 70,6 juta pengguna Facebook dan Flipina dengan kebocoran data 1,1 juta pengguna Facebook.

Negara-negara lain yang juga masuk dalam daftar kebocoran data pengguna Facebook adalah Inggris, Meksiko, Kanada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia yang masing-masing paling tidak mencatat angka ratusan ribu.

Kendati demikian, pihak Facebook menyatakan tidak mengetahui secara persis data apa saja bocor dan dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica. Jumlah pengguna dalam grafik di atas merupakan perkiraan nilai terbaik untuk mencakup angka maksimal dari akun yang terdampak.

 

Kemudian bagaimana caranya data tersebut dimanfaatkan oleh Cambrige Analytica?,

Media kenamaan Inggris, The Guardian, belum lama ini mendapatkan bocoran dokumen cetak biru soal bagaimana data ini dimanfaatkan oleh tim kampanye Donald Trump.

Cetak biru tersebut didapatkan dari mantan Direktur Pengembangan Bisnis Cambridge Analytica yang telah mengakhiri kontraknya yaitu Brittany Kaiser, Ia mengklaim dalam dokumen tercatat jelas bagaimana seluruh data pengguna Facebook itu digunakan.

Dalam cetak biru ini terungkap bahwa firma Cambridge Analytica melakukan beberapa metode, yakni penelitian, survei intensif, pemodelan data, serta mengoptimalkan penggunaan alogaritma untuk menargetkan sebanyak 10.000 iklan berbeda pada audiens.

Praktik ini kemudian dilakukan pada audiens yang berbeda-beda sesuai data diri mereka dan dilakukan dalam bulan-bulan menjelang pemilihan 2016 silam. Dalam dokumentasi yang dipresentasikan beberapa minggu setelah Trump dinyatakan terpilih, tercatat bahwa iklan kampanye yang disebar tersebut telah dilihat sebanyak miliaran kali oleh para calon pemilih.

Dalam prakteknya, pihak Cambridge Analytica juga melakukan pemantauan efektivitas pesan serta iklan pada berbagai jenis calon pemilih. Kemudian si klien pun diberikan masukan dari kampanye yang tengah berjalan baik itu di Facebook maupun platform lain.

Hasil umpan balik atau feedback ini kemudian digunakan lagi untuk mengoptimasi alogaritma penyebaran data agar kampanye yang dilakukan lebih optimal. Feedback ini digunakan untuk mengirim ribuan iklan lain pada calon pemilih bergantung profilnya.