Lakukan 9 hal ini untuk optimalisasi kerja Antivirus melawan malware

January 28, 2021

Selama masa pandemi covid-19, pengguna internet terus meningkat lantaran adanya kebijakan untuk belajar dan bekerja dari rumah. Akibatnya, banyak sekali pengguna internet yang menjadi target dari serangan siber. Serangan malware, salah satunya.

Data dari Honeynet Project Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan terdapat sekitar 5.937 file malware yang dijaring melalui program Indonesia HoneyNet Project (IHP).

Lalu, apakah penggunaan antivirus sudah cukup untuk melindungi pengguna dari serangan siber?

Menurut Direktur Deteksi Ancaman Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Dr. Sulistyo, secara fungsi antivirus memang merupakan pertahanan yang umum digunakan untuk melindungi perangkat dari serangan malware.

Namun yang perlu diketahui, secara umum cara kerja antivirus dalam mendeteksi malware adalah dengan cara mencocokkan signature atau nilai hash dengan malware yang dideteksi.

Sesuai dengan cara kerjanya, antivirus hanya mencocokkan signature malware yang ada. Sehingga jika terdapat malware-malware baru yang belum terjaring dalam database antivirus yang digunakan, maka itu bisa menjadi ancaman tersendiri yang menyebabkan malware tidak terdeteksi.

“Penggunaan antivirus tidak 100% bisa menjamin aman dari serangan malware. Faktor manusia juga berpengaruh besar terhadap jaminan keamanan dari serangan malware dimana diperlukan security awareness yang lebih terhadap keamanan siber,” ungkap Dr. Sulistyo kepada Cyberthreat.id, Rabu (9 September 2020).

Ia menambahkan, antivirus memiliki dua jenis yaitu untuk pengamanan jaringan (network security) dan untuk pengamanan komputer (computer security). Untuk memberikan pengamanan secara menyeluruh, kedua jenis antivirus tersebut harus diaktifkan. Tetapi itu juga tidak menjamin aman dari jenis – jenis malware baru.

Untuk itu, berikut beberapa tips yang diberikan oleh  Sulistyo kepada masyarakat dan pemilik sistem agar terhindar dari serangan malware;

1. Melakukan instalasi software original yang dikeluarkan oleh developer terpercaya dan berhati-hati dalam melakukan instalasi freeware.

2. Mengunduh software hanya dari marketplace aplikasi ataupun website resmi developer dan menggunakan checksum untuk memastikan bahwa file instalasi software yang diunduh tidak terdapat modifikasi ataupun error pada saat proses mengunduh.

3. Menggunakan firewall untuk memblokir semua koneksi masuk ke layanan yang seharusnya tidak tersedia untuk umum, yang secara default menolak semua koneksi yang masuk dan hanya mengizinkan layanan yang digunakan.

4. Melakukan update Operating System, Aplikasi/Software, Firmware dan Browser secara berkala untuk meningkatkan keamanan komputer dari kerawanan yang ada.

5. Menggunakan antivirus dan perangkat security yang update dan lakukan scanning antivirus baik terhadap storage dan memory secara berkala.

6. Mematikan fitur file sharing jika tidak diperlukan dan menggunakan proteksi kata sandi untuk membatasi akses.

7. Menghindari membuka atau menelusuri situs atau halaman yang tidak jelas dan memiliki reputasi buruk seperti situs bajakan, keygen, situs pornografi, dsb.

8. Menghindari menggunakan atau mendownload aplikasi atau jenis program lainnya yang merupakan hasil crack (bajakan).

9. Melakukan data backup secara berkala.